”Analisis
Mengenai Metode Penelitian Sosial dan Tujuan dilakukannya Penelitian”
NAMA : WAHYU NOPRIANSYAH
NPM : D1E013074
JURUSAN KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
UNIVERSITAS BENGKULU
2016
A.
METODE PENELITIAN SOSIAL
Metode berasal dari
Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh.
Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk
dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode
berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Penelitian atau riset pada dasarnya merupakan suatu
penyelidikan yang sistematis dan metodis
atas suatu masalah untuk menemukan solusi atas masalah tersebut dan menambah
khazanah pengetahuan.
Penelitian sosial adalah istilah
yang digunakan terhadap penyelidikan-penyeldikan yang dirancang untuk menambah
khazanah ilmu pengetahuan sosial, gejala sosial, atau praktik-praktik sosial.
Istilah sosial ini menunujuk pada hubungan-hubungan antara, dan di antara,
orang-orang, kelompok-kelompok seperti keluarga, institusi (sekolah, komunitas,
organisasi, dan sebagainya), dan lingkungan yang lebih besar.
Gejala sosial atau hubungan antara
dua atau lebih gejala sosial dijadikan sebagai topik penelitian sosial. Topik
yang berhubungan dengan gejala sosial bisa menyangkut individu (misal, kepuasan
kerja), kelompok (misal, kepemimpinan), masyarakat (misal, struktur sosial),
institusi (misal, iklim organisasi), dan juga lingkungan yang lebih luas
seperti negara (misal, pertumbuhan ekonomi nasional). Jika demikian, studi
tentang hubungan-hubungan antara, dan di antara, orang, kelompok, institusi,
atau lingkungan yang lebih luas dinamakan dengan penelitian sosial. Penelitian
sosial merupakan suatu tipe penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan sosial
(social scientist) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai aspek
sosial sehingga kita dapat memahaminya.
Penelitian atau riset pada dasarnya
merupakan suatu penyelidikan yang sistematis dan metodis atas suatu masalah untuk
menemukan solusi atas masalah tersebut dan menambah khazanah pengetahuan.
Penelitian juga adalah penyelidikan
yang sistematis untuk menemukan jawaban atas masalah. Penelitian dapat
digambarkan sebagai upaya yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki
masalah spesifik yang memerlukan solusi. Ini adalah serangkaian langkah-langkah
dirancang dan diikuti, dengan tujuan menemukan jawaban terhadap isu-isu yang
perhatian kepada kita dalam lingkungan kerja.
Jadi, walaupun penelitian merupakan
sentral untuk penyelidikan dan pencarian solusi atas masalah-masalah sosial dan
kegiatan akademik, belum ada konsensus dalam literatur tentang bagaimana
penelitian harus didefinisikan. Hussey menyatakan bahwa penelitian menyediakan
suatu peluang untuk mengenali dan memilih satu masalah penelitian dan
menyelidikinya secara bebas
Penelitian
dapat digambarkan sebagai upaya yang sistematis dan terorganisasi untuk
menyelidiki masalah spesifik yang memerlukan solusi. Ini adalah serangkaian
langkah-langkah dirancang dan diikuti, dengan tujuan menemukan jawaban terhadap
isu-isu yang perhatian kepada kita dalam lingkungan kerja. Jadi,
walaupun penelitian merupakan
sentral untuk penyelidikan dan pencarian solusi atas masalah-masalah sosial dan
kegiatan akademik, belum ada konsensus dalam literatur tentang bagaimana
penelitian harus didefinisikan.
Metode penelitian sosial adalah
suatu metode analisis situasi yang merumuskan berbagai masalah sosial
dengan maksud untuk menemukan aspek yang baru, memahami sebab dan
interrelasinya, mengoreksi, mengadakan vertifikasi, dan memperluas pengetahuan.
Penelitian
sosial juga dapat digunakan sebagai
penyelidikan-penyeldikan yang dirancang untuk menambah ilmu pengetahuan sosial,
gejala sosial, atau praktik-praktik sosial. Istilah sosial ini menunujuk pada
hubungan-hubungan antara, dan di antara, orang-orang, kelompok-kelompok seperti
keluarga, institusi (sekolah, komunitas, organisasi, dan sebagainya), dan
lingkungan yang lebih besar.
Metode
penelitian sosial juga dapat diartikan
sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat
ditemukan, dibuktikan, dan dikembangkan suatu pengetahuan sehingga pada
gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi dalam
bidang sosial.
Kemudian juga menurut saya Metode
adalah suatu cara atau jalan, metode dapat di artikan sebagai cara untuk
mendekati, mengamati dan menjelaskan suatu gejala dengan menggunakan suatu atau
sebuah landasan teori. Metode penelitian menunjuk pada cara dalam hal apa studi
penelitian dirancang dan prosedur – prosedur melalui apa data dianalisis.
Pengertian luas menurut saya
mengenai penelitian sosial merupakan
cara dan prosedur yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki
suatu masalah dengan mendapatkan informasi untuk digunakan sebagai solusi atas
masalah tersebut.
Kemudian metodologi adalah suatu
pengetahuan tentang berbagai cara kerja yang disesuaikan dengan objek study
ilmu – ilmu yang bersangkutan. Jadi
metodologi penelitian adalah ilmu tentang metode penelitian. Cara – cara
bagaimana melakukan penelitian disebut dengan metode penelitian, sedangkan
studi tentang metode penelitiaan dinamakan metode penelitian.
Adapun paradigma penelitian yakni,
ü Paradigma
Kuantitatif, dinyatakan sebagai paradigma positivisme, penelitian ini dapat
dikontruksi sebagai strategi penelitian yang menekankan kuantitatif dalam
pengumpulan data dengan pendekatan deduktif. Pengujian teori (Testing of
theory)
ü Penelitian
Kualitatif, Dinyatakan sebagai paradigma fenomenolois atau naturalis.
Penelitian kualitatif sebagai satu strategis penelitian yang biasanya
menekankan pada kata – kata dari pada kuantifikasi dalam pengumpulan dan
analisi data. Penciptaan teori (Geeration of theory)
B.
CIRI – CIRI
PENELITIAN SOSIAL
1.
Bertujuan
Jelas suatu penelitian sosial itu
harus memliki tujuan yang pasti, apabila kita akan melakukan penelitian yang
paling utama pula harus memiliki tujuan yang jelas dan pasti.
2.
Sistematis
Sistematis disini maksudnya adalah kita harus menyususun suatu penelitian
itu dengan rapi atau ditata dengan cara tertentu
3.
Emperis
Maksudnya adalah suatu keyakinan subyektif disini harus diperiksa dengan
menghadapkannya pada realitas obyektif.
4.
Obyektifitas
Disini kita harus menentukannya berdasarkan fakta – fakta yang
dihasilkan dari data – data yang aktual.
5.
Kritis
Dalam melakukan penelitian kita pun
harus terbuka untuk kritis, harus diperiksa atau diuji terhadap realitas yang
obyektif.
6.
Generalisabilitas
Dalam hal ini kita harus mengetahu
sejauh mana hasil temuan dapat digenerelasi kepopulasi yang lebih luas.
7.
Replakabilitas
Disini diperlukannya pengulangan
penelitian oleh peneliti lainnya untuk mengukuhkan atau memeriksa lagi
kebenarannya.
Dengan begitu apabila dengan
menjalani ciri – ciri diatas maka setidaknya kita akan sangat mudah untuk
melakukan penelitian atau bahkan
mengetahui menganai bagaimana melakukan penelitian atau fase – fase untuk melakukan penelitian,
dan sehingga nantinya mendapatkan hasil atau tujuan yang telah direncanakan
sebelumnya.
C.
KEGUNAAN
PENELITIAN SOSIAL
Menurut Siti Partini penelitian sosial memiliki beberapa kegunaan antara
lain:
1. Penjajagan (
ekploratif ), yaitu berguna untuk mencari-cari kemungkinan terbaik dalam
memecahkan problema sosial, sehingga sifatnya masih mencoba dan terbuka. Contoh: upaya
menanggulangi kenakalan remaja, kemiskinan, dll.
2. Deskriftif,
yaitu berguna untuk pengukuran yang cermat terhadap penomena social tertentu.
Contoh: penelitian tentang jumlah pengangguran, pendapatan masyarakat, dll.
3. Eksplanatori,
yaitu berguna untuk menjelaskan sebab-sebab yang melatarbelakangi suatu keadaan
tertentu. Contoh: pengaruh kemiskinan terhadap peluang hidup manusia.
4. Evaluatif,
yaitu berguna untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang ditetapkan pada awal
program sudah tercapai. Contoh: penelitian tentang efektifitas dana bos dalam
mengurangi anak putus sekolah.
5. Prediktif,
yaitu berguna untuk meramalkan kejadian atau fenomena soaial tertentu yang akan
terjadi. Contoh: penelitian tentang akibat ke depan banjir lumpur panaS sidoarjo.
Dengan
begitu apabila mengetahui kegunaan metode penelitian sosial diatas maka
setidaknya kita akan sangat mudah untuk melakukan penelitian atau bahkan mengetahui menganai bagaimana melakukan
penelitian atau fase – fase untuk melakukan
penelitian, dan sehingga nantinya mendapatkan hasil atau tujuan yang telah
direncanakan sebelumnya.
D.
FUNGSI /
MANFAAT PENELITIAN SOSIAL
Fungsi
adalah kegunaan suatu hal. Fungsi penelitian disni menurut saya adalah kegunaan
penelitian sosial. Berguna untuk siapa? Fungsi penelitian sosial
sedikitnyamemiliki kegunaan dalam tiga hal, yaitu: kegunaan untuk pengembangan
ilmu sosial itu sendiri, kegunaan bagi masyarakat (sasaran penelitian), dan
kegunaan untuk peneliti sendiri.
1. Ilmu sosial
Kegunaan untuk pengembangan ilmu sosial yaitu
penelitian ituberguna untuk mengembangkan dan mensahihkan ilmu sosial. Jika
macam-macam ilmu sosial meliputi sosiologi, antropologi, ekonomi,
geografi, sejarah,dan hukum, maka penelitian itu berguna untuk mengembangkan dan
mensahihkan ilmu sosiologi, antropologi, ekonomi, geografi, sejarah, dan hukum.
2. Masyarakat
sasaran
Maksud
kegunaan penelitian sosial bagi masyarakat (sasaranpenelitian) adalah hasil
penelitian itu berguna untuk menjawab masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh
masyarakat yang diteliti. Jika penelitian itumeneliti tenang masalah
kemiskinan, maka fungsi penelitian itu adalah untuk menjawab bagaimana
cara dan strategi agar masyarakat itu sejahtera.
3. Peneliti
Peneliti adalah orang yang melakukan penelitian.
Apakah seorangpeneliti mendapatkan kegunaan dari proses penelitian? Jawabnya,
ya. Denganproses penelitian, seorang peneliti semakin bertambah wawasan
danpengetahuannya tentang masalah yang diteliti dan ilmu yang
dimiliki.
Seorang peneliti kemiskinan, pasti akan memahami
persoalan mengapa dan bagaimana terjadi kemiskinan. Tentu peneliti ini
dikemudian hari akan menjadi seorangahli (teoritis) dalam mengentaskan
kemiskinan. Banyak juga seorang penelitiyang mendapatkan materi (harta) dari penelitian.
Definisi manfaat adalah guna atau untung. Kebalikan
dari manfaat adalahmudarat atau rugi. Jadi manfaat penelitian sosial sama
halnya dengan fungsi penelitian sosial. Lantas apa mudarat dari penelitian
sosial? Mudarat dari penelitian social diantaranya :
a. jika penelitian sosial
itu akan menghancurkan ilmu sosial itu sendiri.
b. jika penelitian sosial
itu akan menyengsarakan masyarakat sasaran, dan
c. jika penelitian
sosial itu akan mengancam eksistensi peneliti itu sendiri.
1. Data dan Pengumpulan (collecting) Data.
Dalam poin ini, perlu diuraikan apakah data dalam
penelitian adalah data primer atau data sekunder. Data primer adalah data yang
diperoleh melalui pengukuran langsung oleh peneliti yang bukan berasal dari
data yang telah ada, sedangkan data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh
pihak lain dan telah didokumentasikan sehingga dapat digunakan oleh pihak lain
(peneliti).
Perlu juga diuraikan data-data apa saja yang digunakan
dalam penelitian secara jelas. Sedangkan dalam pengumpulan data, perlu
diuraikan bagaimana cara peneliti memperoleh dan mengumpulkan data, dengan
menggunakan media apa.
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan instrumen (media) kuisioner yaitu
serangkain pertanyaan untuk dijawab responden, instrumen alat pengukur lainnya
(seperti alat pengukur kondisi fisik suatu benda).
Dapat juga digunakan teknik wawancara, yaitu data
diambil bersadarkan wawancara peneliti terhadap responden. Dalam hal ini,
peneliti melakukan wawancara berdasarkan panduan wawancara yang telah disusun
untuk penelitian. Apabila panduan wawancara yang digunakan hanyalah bersifat
pertanyaan dasar dan responden diharapkan dapat menjawab secara mengembang,
maka tekik ini disebut dengan wawancara mendalam (circumstantial interview).
Apabila data yang digunakan adalah data sekunder, maka
pada umumnya pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan dokumentasi dan
observasi. Dokumentasi adalah memanfaatkan dokumen
yang sudah ada, dan dalam hal ini perlu diuraikan dokumen apa saja secara
jelas, sedangkan observasi adalah pengamatan kualitatif secara langsung oleh
peneliti untuk mengambil data-data berdasarkan kondisi tertentu sesuai dengan
maksud penelitian. Sebagai contoh observasi disini adalah tindakan peneliti
mengamati perilaku siswa saat dilaksanakannya penelitian.
2. Populasi, Sampel, dan Sampling.
Penelitian yang melibatkan banyak data akan menjadi
sulit dilaksanakan atau tidak efektif apabila dilakukukan dengan menggunakan
seleuruh data yang ada. Apabila jumlah data yang diteliti kurang dari 100 atau
dirasa masih mudah untuk diambil semuanya, maka sebaiknya seluruh data tersebut
digunakan, sedangkan apabila jumlah data lebih dari 100 atau dirasa akan banyak
kesulitan apabila digunakan seluruhnya, maka sebaiknya dilakukan sampling.
Populasi merupakan seluruh unit yang dikaji dalam
penelitian. Sebagai contoh adalah siswa SMP Negeri 1 Bengkulu Tengah. Sedangkan
sampel adalah sebagian dari populasi yang digunakan sebagai data dalam
penelitian. Sampel ini haruslah representatif atau mewakili, yaitu satu sampel
diambil pada data yang sekiranya memiliki kesamaan sifat dengan data lainnya
(sampel diambil darai kelompok yang homogen). Cara pengambilan sampel agar
memenuhi kriteria representatif ini disebut sebagai sampling.
Kemudian
Empat Pondasi Ilmu
Sosial :
·
Teori, bukan filsafat atau keimanan
·
Regularitas Sosial
·
Data Agregat, bukan Individual
·
Bahasa Variabel
Penjelasan :
1. Teori bukan filsafat atau keimanan
Ilmu ditandai dengan istilah logico-empirical yang
artinya didasarkan pada dua hal yaitu logika atau penalaran rasional dan
pengamatan atas gejala empirik. Artinya, setiap hal dikatakan ilmiah kalau
masuk akal dan bisa dibuktikan dengan apa yang diamati. Teori berkenaan dengan aspek logika keilmuan sedangkan riset berkenaan dengan aspek
pengamatan. Teori sosial ilmiah berkenaan dengan apa yang
senyatanya terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi.
Hal ini menjadikan ilmu sosial tidak memperdebatkan
tentang nilai. Ilmu sosial tidak menunjukkan apakah kapitalisme lebih baik atau
lebih buruk daripada sosialisme, kecuali diukur dari kondisi-kondisi tertentu
yang telah disepakati sebelumnya, misalnya diukur dari pemberian kebebasan,
kapitalisme lebih memberikan kebebasan daripada sosialisme.
2. Regularitas Sosial (Keteraturan sosial)
Asumsi dasarnya: kehidupan sosial sedinamis apapun
adalah teratur, bukannya samasekali kacau atau acak. Asumsi keteraturan itu
menjadi dasar bagi semua ilmu, namun dibandigkan dengan ilmu alam, ilmu sosial
mempunyai kekhasan dan keterbatasan. Contoh: es mencair pada suhu tertentu,
namun orang yang nampak alim ada yang berprofesi sebagai pencuri. Namun kalau
mengamati sebagian besar orang yang nampak alim maka sebagian besar tidak pernah
mencuri.
Ada tiga keberatan terhadap asumsi regularitas dalam
ilmu sosial:
·
beberapa hal yang dianggap sebagai
"keteraturan" merupakan hal yang nampaknya dibuat-buat (trivial).
Misalnya "promosi jabatan yang adil meningkatkan moral prajurit."
Ketika diteliti, prajurit yang lambat dipromosikan menganggap sistem promosinya
tidak adil, dan prajurit yang dipromosikan cepat menganggap sistem promosi itu
adil.
·
Kasus-kasus yang tercatat berlawanan dengan
"keteraturan" itu menjadikan apa yang dianggap sebagai keterauran
bukanlah benar-benar sebuah keteraturan;
·
Orang yang terlibat dalam "keteraturan
sosial" itu sebenarnya bisa saja merusak keteraturan itu jika mereka mau
(menyangkut adanya sikap atau attitude).
3. Data Agregat, bukannya Individual
Ilmuwan sosial lebih mempelajari pola-pola sosial
daripada sifat-sifat individual. Keseluruhan pola-pola teratur itu mencerminkan
adanya tindakan dan situasi yang bersifat agregat dari banyak individu.
Sekalipun kadang kala ulmuwan sosial mempelajari motivasi (dorongan) yang
mempengaruhi tingkah-laku seseorang, individu itu sendiri jarang sekali dijadikan
obyek kajian ilmu soaial. Ilmu sosial tidak menghasilkan teori tentang
seseorang, melainkan hanya mengenai hakikat kehidupan berkelompok (kehidupan
sosial).
Kadang kala keteraturan agregatif merupakan hal yang
menakjubkan. Ambil contoh, laju kelahiran. Orang punya anak didasarkan pada
rentang variasi alasan yang sangat lebar. Beberapa mengatakan bahwa itu
kehendak orang tua mereka, beberapa mengatakan itu merupakan kesempurnaannya
sebagai lakilaki dan wanita, beberapa karena ingin mempererat tali perkawinan,
beberapa lagi karena "kecelakaan."
Tetapi di luar semua perbedaan alasan mempunyai anak
itu, secara keseluruhan laju kelahiran anak dalam suatu masyarakat menunjukkan
angka yang konsisten dari tahun ke tahun. Jika tahun ini ada 19,1 anak lahir per
seribu penduduk, maka tahun depan juga angkanya dekat dengan 19,1 per seribu,
sekalipun angka laju kelahiran itu mungkin akan meningkat atau merosot dalam
periode yang lama. Seandainya laju kelahiran di suatu masyarakat adalah 19,1
lalu 35,6 lalu 7,8 lalu 28,9 lalu 16,2 dalam waktu lima tahun berturut-turut,
para demografer akan jatuh pingsan seketika!
Dengan demikian, teori sosial berkenaan dengan
tingkah-laku agregat, bukan tingkah-laku individual. Tujuan ilmu sosial adalah
menjelaskan mengapa pola-pola agregatif tingkah-laku masyarakat sedemikian
teraturnya bahkan ketika orang-orang yang termasuk di dalamnya berubah dari
waktu ke waktu.
Dengan kata lain, ilmu sosial tidak berusaha
menjelaskan tentang masyarakat itu sendiri, melainkan lebih bertujuan menjelaskan
sistem sosial di mana masyarakat itu berkehidupan, yakni sistem yang
menjelaskan mengapa masyarakat melakukan apa yang mereka lakukan.
Oleh karena itu elemen-elemen dalam sistem tersebut bukanlah masyarakat,
melainkan variabel-variabel.
4. Ilmu Sosial ber-Bahasa Variabel
Ilustrasi: obyek seorang dokter adalah pasien. Jika si
pasien sakit, tugas dokter itu membuatnya sembuh. Tetapi seorang peneliti
kesehatan obyeknya adalah penyakit. Mungkin melihat pada pasien yang sama,
namun pasien itu relevan baginya hanya kalau dia menderita penyakit yang
ditelitinya.
Ini bukan berarti bahwa peneliti kesehatan tak peduli
dengan orang sakit. Tujuan penelitiannya juga untuk melindungi semua manusia
dari penyakit. Sebab kalau penyakit itu bisa dipelajarinya tanpa melihat pada
pasien langsung (misalnya di lab) dia akan melakukan itu.
Dengan
analogi itu ingin dikatakan di sini bahwa ilmu sosial memuat studi mengenai variabel-variabel dan atribut-atribut yang menyusunnya.
Teoriteori ilmu sosial dituliskan dalam bahasa variabel, dan menggambarkan
masyarakat yang memuat variabel-variabel itu.
Selain itu itu proses penelitian
sosial diantaranya, yaitu :
1. Masalah penelitian mencakup; penemuan masalah dan pemecahan masalah
tahap: identifikasi bidang permasalahan, pemilihan atau pemilihan pokok
masalahdan perumusan masaalah kajian teoriis meyusun kerangka teoritis yang
menjadi dasar untuk menjawab masalah atau pertanyaan penelitian.
2. Pengujian fakta (data) mencackup: pemilihan, pengumpulan dan analisis
fakta yang terkait dengan masalah yang diteliti data: sekumpulan fakta yang
diperoleh melalui pengamatan (observasi) atau servey, kesimpulan merupakan
hasil penelitian yang meberi feed back pada masalah atau pertanyaan penelitian.
Definisi Operasional Penelitian
Operasional Penelitian adalah suatu konsep yang
digambarkan dalam definisi konsep tentu saja tidak akan dapat diobservasi atau
diukur gejalanya dilapangan. Untuk dapat diobservasi atau diukur, maka suatu
konsep harus didefinisikan secara operasional.
Definisi operasional ini dimaksudkan
untuk memberikan rujukan-rujukan empiris apa saja yang dapat ditemukan
dilapangan untuk menggambarkan secara tepat konsep yang dimaksud sehingga
konsep tersebut dapat diamati dan diukur. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
definisi operasional merupakan jembatan yang menghubungkan conceptual-theoretical level dengan empirical–observational level.
Kemudian untuk dua sistem logisnya yakni Deduktif dan Induktif Penalaran: Sebuah Ilustrasi Kasus. Kedua model akan digambarkan dengan satu contoh: berusaha untuk memahami
mengapa beberapa orang lebih religius daripada yang lain.
Kita akan
melihat bahwa gender, usia, status keluarga, dan status sosial yang terlibat.
Model deduktif dimulai dengan teori tentang religiusitas - disebut "Teori
Gratifikasi Sosial," yang menunjukkan hipotesis tentang bagaimana empat
variabel mungkin menyebabkan tingkat yang lebih tinggi atau lebih rendah
religiusitas. Model induktif dimulai dengan hubungan yang diamati dan berusaha
untuk masuk akal dari mereka.
·
Model
deduktif, kemudian, dimulai dengan teori dan hasil untuk derivasi hipotesis
yang akan diuji.
·
Model
induktif dimulai dengan pengamatan dan terlihat pola-pola umum yang dapat
membentuk dasar untuk teori.
Kedua model
sama-sama berlaku sebagai pendekatan untuk pemahaman, dan ilmu sosial cenderung untuk kemajuan melalui pergantian dari dua. Pengamatan
dapat menyebabkan teori, teori diuji melalui pengamatan, hasil tidak sepenuhnya
mengkonfirmasi teori, sehingga pengamatan baru menjadi dasar untuk memperbaiki
teori, yang kemudian diuji.
E.
GEJALA SOSIAL
Gejala sosial atau hubungan antara dua atau lebih
dalah gejala sosial dijadikan sebagai topik penelitian sosial. Topik yang
berhubungan dengan gejala sosial bisa menyangkut individu (misal,
kepuasan kerja), kelompok (misal, kepemimpinan), masyarakat (misal, struktur sosial), institusi (misal, iklim organisasi), dan juga lingkungan yang lebih
luas seperti negara (misal,
pertumbuhan ekonomi nasional).
Jika demikian, studi tentang hubungan-hubungan antara,
dan di antara, orang, kelompok, institusi, atau
lingkungan yang lebih luas dinamakan dengan penelitian sosial. Penelitian
sosial merupakan suatu tipe penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan sosial (social scientist) untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai aspek sosial sehingga kita dapat memahaminya.
Gejala sosial adalah bentrokan atau
penyatuan dimensi-dimensi sosial dalam dri manusia sebagai makhluk yg berinteraksi
antar sesamanya (manusia sebagai makhluk sosial).
Contoh yg paling populer adalah perang (contoh bentrokannya) perdamaian (contoh penyatuannya) kedua contoh di atas adalah yg paling besar dan masih banyak banget yg lainnya. Untuk penjelasan lengkap tentang masalah ini sangat panjang dan agak rumit. (sebaiknya lebih banyak baca buku tentang ilmu sosial jika benar - benar ingin memahaminya).
Gejala non sosial lebih pada kondisi alam seperti bencana atau aktifitas alam lainnya seperti hujan, petir, banjir, gempa yg terjadi karena pergeseran atau pergerakan dimensi-dimensi alam itu sendiri.
Contoh yg paling populer adalah perang (contoh bentrokannya) perdamaian (contoh penyatuannya) kedua contoh di atas adalah yg paling besar dan masih banyak banget yg lainnya. Untuk penjelasan lengkap tentang masalah ini sangat panjang dan agak rumit. (sebaiknya lebih banyak baca buku tentang ilmu sosial jika benar - benar ingin memahaminya).
Gejala non sosial lebih pada kondisi alam seperti bencana atau aktifitas alam lainnya seperti hujan, petir, banjir, gempa yg terjadi karena pergeseran atau pergerakan dimensi-dimensi alam itu sendiri.
Penelitian atau riset pada dasarnya merupakan suatu
penyelidikan yang sistematis dan metodis
atas suatu masalah untuk menemukan solusi atas masalah tersebut dan menambah
khazanah pengetahuan.
F.
UNSUR-UNSUR PENELITIAN SOSIAL
Teori dan Hipotesis
Kedudukan kedua unsur penelitian ini sangat penting dan sentra di dalam
enelitian survei. Teori di dalam penelitian sepert idibutuhkan sebagai pegangan
pokk (kerangka berfikir) secara umum sedangkan hipotesis dibutuhkan sebagai
saran untuk menjelaskan permasalahan yang sedang dicarikan pemecahanya
(surakhmad,1990:63).
Selama data (informas yang lengkap) belum terkumpul, maka
seseorang peneliti akan berpedoman pada teori sementara sebagai petunjuk
sementara ke arah pemecahan masalah. Teori sementara yang berfungsi dmikian
itulah yang biasa disebut hipotesis. Secara etiomologis, hipotesis berarti
suatu yang masih kurang dari 9hypo) sebuah pendapat (tesis). Dengan kata lain
hipotesis adlah sebuah kesimpulan tetapi kesimpulan belum final karena masih
harus ddiuji kebenaranya. Dari uraian disini jelaslah bahwa hipotesis merupakan
jawaban sementara terhadapa masalah yang tengah diteliti.
G.
JENIS - JENIS
METODE PENELITIAN dan MACAM-MACAM METODOLOGI PENELITIAN
Secara
umum metodelogi penelitian dapat kita bagi dalam 7 jenis metode penelitian, diantaranya :
1. Penelitian historis;
penelitian yang bertujuan membuat rekunstruksi masa lampau secara
sistematis dan objektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverfikasi,
serta mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh
kesimpulan yang kuat dan akurat.
2. Penelitian diskriptif;
penelitian yang bertujuan membuat gambaran secara sistematis, faktual
dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat pada suatu objek penelitian
tertentu.
3. Penelitian pengembangan; penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki
suatu pola dan perurutan pertumbuhan atau perubahan suatu objek atau gejala.
Dimana peneliti ingin melihat hasil yang lebih efektif dan efisien dari hasil
yang akan dicapainya.
4. Penelitian kasus (lapangan); penelitian yang bertujuan untuk mempelajari
secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan intraksi lingkungan
suatu unit sosial, baik individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat.
5. Penelitian korelasional; penelitian yang bertujuan untuk melihat ada
tidaknya hubungan antara variabel atau gejala tertentu terhadap variabel atau
gejala lainnya.
6. Penelitian tindakan; penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan
keterampilan-keterampilan baru, cara pendekatan baru atau suatu produk
pengetahuan baru untuk memecahkan
masalah dengan penerapan langsung di lapangan secara nyata.
7. Penelitian eksperimental;
penelitian yang bertujuan untuk
menyelidiki sebab akibat tertentu dengan memberikan perlakuan tertentu
atau kondisi yang berbeda.
Dari
jenis-jenis penelitian diatas lebih bersifat umum atau pertinjauan dari jenis
penelitian secara mendalam dan skarang kita siap membagi beberapa penelitian berdasarkan
beberapa pertimbangan atau kualifikasi tertentu;
Macam macam penelitian
sebagai berikut;
1. Secara paradigmatik dikenal ada 3 (tiga) macam paradigma penelitian:
·
Positivistik;
fokusnya mencari hubungan antar-variabel -Madhab Comtean (August Compte). Akar
penelitian kuantitatif.
·
Interpretif
(fokusnya pada makna suatu tindakan) - madhab Weberian. Akar penelitian
kualitatif.
·
Kritik
(fokusnya pada wacana. Wacana merupakan medan beroperasinya kekuasaan) madhab
postmodernisme (ideologi dan kekuasaan).
2. Secara metodologik, terdapat 4 (dua) macam metode penelitain:
·
Metode
Kuantitatif , dasarnya
adalah semua persoalan kehidupan terjadi dalam hubungan sebab akibat. Tindakan manusia merupakan akibat dari sebab-sebab tertentu.
·
Metode
Kualitatif , dasarnya
adalah manusia merupakan makhluk berkehendak bebas (free will) yang
bertindak atas dasar keinginan pribadi.
·
Metode
Campuran (Mixing Methods) Kuantitatif dan Kualitatif dasarnya adalah logika
triangulasi (hasil kualitatif bisa dikembangkan untuk diuji kuantitatif, atau
hasil kuantitatif perlu diperdalam kepada para aktor secara kualitatif).
·
Metode
Kritis/Refleksif – dasarnya adalah fungsi praksis (perbaikan) ilmu pengetahuan
untuk mengkritisi dan mengubah situasi yang tidak manusiawi.
3. Berdasarkan dorongannya, terdapat 2 (dua) macam penelitian:
·
Applied
(terapan) , tujuannya untuk
menyelesaikan persoalan dengan cepat.
·
Pure
(murni), tujuannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
4. Berdasarkan jenis realitasnya (unit of analysis),
terdapat 4 (empat) jenis penelitian:
·
Penelitian
mikro objektif (misalnya tentang tindakan-tindakan individual)
·
Penelitian
mikro subjektif (misalnya tentang pendapat, ide, pengalaman individual).
·
Penelitian
makro objektif (misalnya tentang pola-pola struktural umum yang kasat mata,
seperti masyarakat, birokrasi, hukum, arsitektur, pendidikan dsb).
·
Penelitian
makro subjektif (misalnya tentang pola-pola struktural umum yang tidak kasat mata,
seperti kultur, norma, dan nilai yang ada di masyarakat).
·
Penelitian
pertautan (linkage) antar dua atau lebih kuwadran
(mikro-makro,subjektif-objektif).
5. Berdasarkan sifat masalah dan tujuan penelitian terdapat :
·
Penelitian
eksploratori: Menjelajahi fenomena baru.
·
Penelitian
deskriptif: Memaparkan fenomena/fakta.
·
Penelitian
eksplanatori: Menjelaskan (hubungan) dua atau lebih fenomena/fakta.
·
Penelitian
Prediktif: Meramalkan kecenderungan fenomena/fakta berdasarkan data sekarang.
·
Penelitian Interpretif:
Memahami fenomena (khususnya melalui tindakan verbal dan diskursif pelaku).
·
Penelitian
kritis: Memberikan penafsiran tandingan (alternatif) atas fenomena berdasarkan
pendirian tertentu.
·
Penelitian
historis: merekonstruksi rangkaian kejadian penting masa lalu.
6. Berdasarkan perolehan data, terdapat 2 (dua) macam jenis penelitian:
·
Lapangan
(field) (field research)
·
Teks
(text analysis/studies)
H.
MACAM-MACAM VARIABEL DALAM PENELITIAN
a. Pengertian
Variabel
penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi
titik perhatian suatu penelitian. Yang
mengartikan variabel adalah objek pengamatan atau fenomena
yang diteliti. Variabel
adalah semua keadaan, faktor, kondisi, perlakuan, atau tindakan yang dapat mempengaruhi hasil
eksperimen. Variabel adalah
konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai. Variabel adalah gejala atau obyek
penelitian yang bervariasi, contoh: variabel jenis kelamin (laki-laki dan
perempuan), variabel profesi (guru, petani, pedagang).
b. Macam-macam Variabel
1. Variabel
Kuantitatif.
a. Variabel diskrit (
nominal,kategorik) yaitu variabael 2 kutub berlawanan.
Contoh: 1. Kehadiran
: hadir, tidak hadir
2.
Jenis kelamin : laki-laki, perempuan.
b.
Variabel kontinum
1. Variabel Ordinal :
variabel tingkatan.
Contoh: Satria terpandai, Raka
pandai, Yudit tidak pandai.
2. Variabel
Interval: variabel jarak.
Contoh: Jarak rumah
Anto kesekolah 10 km, sedangkan
Yuli 5 km maka vr intervalnya adalah 5 km.
3. Variabel
Ratio: variabel perbandingan (sekian kali).
Contoh: Berat badan Heri
80kg, sedangkan
berat badan Upi 40 kg, maka berat badan Heri 2 kali lipat Upi.
4. Variabel
Kualitatif adalah variabel yang menunjukkan suatu intensitas yang sulit diukur dengan
angka.
Contoh : kedisiplinan, kemakmuran
dan kepandaian.
5. Variabel
Independen (Pengaruh, Bebas, Stimulus, Prediktor) Merupakan variabel yang
mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya
atau timbulnya variabel dependen (terikat).
atau timbulnya variabel dependen (terikat).
6. Variabel
Dependen (Dipengaruhi, Terikat, Output, Kriteria, Konsekuen). Merupakan
variabel yang dipengaruhi atau akibat, karena adanya variabel bebas.
Contoh: Pengaruh Iklan Terhadap Motivasi Pembelian. Iklan = Variabel
Independen Motivasi Pembelian = Variabel Dependen.
Contoh: Pengaruh Iklan Terhadap Motivasi Pembelian. Iklan = Variabel
Independen Motivasi Pembelian = Variabel Dependen.
7. Variabel
Moderator, Merupakan variabel yang mepengaruhi (memperkuat atau memperlemah)
hubungan antara
variabel independen dengan dependen. Variabel ini sering disebut sebagai variabel
independen kedua.
Contoh: Anak adalah
variabel yang memperkuat hubungan suami
isteri. Pihak
ketiga adalah variabel yang memperlemah hubungan suami isteri.
ketiga adalah variabel yang memperlemah hubungan suami isteri.
8. Variabel
Intervening (Antara).
Merupakan
variabel yang menghubungkan antara variabel independen dengan variabel dependen
yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan namun tidak dapat diamati atau
diukur.
Contoh:
Hubungan antara Kualitas Pelayanan (Independent) dengan Kepuasan
Konsumen (Intervening) dan Loyalitas (Dependen).
9. Variabel
Kontrol, Merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga
pengaruh variabel independen
terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Contoh:
Apakah ada perbedaan antara tenaga penjual (sales force) yang lulus D3 dan S1 maka harus
ditetapkan variable control berupa gaji yang sama, peralatan yang sama, iklim kerja
yang sama, dan lain-lain. Tanpa adanya variabel kontrol maka
sulit ditemukan apakah perbedaan
penampilan karyawan karena faktor pendidikan.
Variabel berasa dari kata
baasa inggris variable yang berarti faktor tak teta atau berubah ubah. Kemudian
arti variable dalam bahasa indonesia lebih tepat disebut bervariasi. Berarti
variabel adalah fenomena yang bervariasi dalam bentuk, kulantitas, mutu standar
dan sebagainya.
Variabel dapat dikelompokan menurut
mepat bentuk pengukuran sebagai berikut :
a. Variabel Nominal, yaitu variabel yang idbentuk
berdasarkan atas penggolongan. Variabel ini bersifat diskrit dan saling pilih
(mutually exsclusive) antara kategori yang satu dan kategori yang lain,
contohnya; jenis kelamin, status pekerjaan, status perumahan dan sebagainya.
b. Variabel ordinal, variabel yang dibentuk berdasarkan
atas jenjang dalam atribut tertentu; jenjang tertinggi dan terendah
sesungguhnya ditetapkan menurut kesepakatan seingga angka 1 atau angka 10 dapat
berada pada tingkatan jenjang yang paling tinggi atau paling rendah.
c. Variabel interval, yaitu variabel
ang dibangun dari pengukuran,. Dalam pengukuran tersebut diamsumsikan terdapat
satuan pengukuran yang sama.
d. Variabel Ratio, yaitu variabel yang memeiliki
permulaan angka nol mutlak. Sebagai contoh, variabel umur; ada yang beruur
0,1,2,3,4 tahun dan sebagainya.
Kompleksitas variabel d atas
sesungguhnya dapat disederhanakan dengan hanya melihat bahwa variabel variabel
itu terdiri atas tiga rumpun variabel, yaitu rumpun variabel bebas 9
independent variable) rumpun variabel tergantung (dependent variable) dan
rumpun variabel penyela (intervening vaiable).
I. HUBUNGAN-HUBUNGAN VARIABEL
Pada umumnya penelitian
sosia, bentuk bentuk hubungan antara variabel penelitian tidak saja
dipertimbangkan dalam analisis, tetap merupakan hal yagn pokok dalam
penelitaian sosial. Uumunya penelitian sisak bertujuan mencari hubungan antara
variiabel variabel tersebut keudian hubungan hubugan itu diuji satu sama lain.
Variabel dilihat bukan pada keberadaanya saja, tetapi bagaimana hubungan
hubungan itu dijalin dan kemudian mewarnai variabel tergantung. Untuk lebih
jelas mari kita lihat hubungan hubungan tersebut dalam tabel berikut.
A.
Hubungan simetris
1.
Kedua variabel merupakan
indikator untuk konsep yang sama.
2.
Kedua variabel merupakan akibat dari faktor
yang sama.
3.
Kedua variabel berkaita
secara fungsional.
4.
Hubungan yang kebetulan
semata-mata.
B.
Hubungan timbal balik
C.
Hubungan asimetris
1.
Hubungan antara stimulus dan
respons.
2.
Hubngan antara dispisisi dan
respons.
3.
Hubngan antara ciri individu
dan disposisi atau tingkah laku.
4.
Hubgan antara prekondisi dan
akbibat tertentu.
5.
Hubgan antara tujuan dan
cara.
J. HIPOTESIS
PENELITIAN SOSIAL
Hipotesis secara
etimologis dibentuk dari dua kata yaitu kata hypo dan kata thesis. Hypo berarti
kurang dan thesis adalah pendapat
kemudia kedua kata ii digabung menjadi hypothesis dan di indonesiakan menjadi
hiotesis danegan arti suatu kesimpulan yang masih kurang, yang masih belum sempurna.
Pengertian ini kemudian di perluas dengan maksud sebagai kesimpulan yang belum
semurna,, sehingga perlu disemurnakan dengan mebuktikan kebenara hiptoesis itu
pembuktian itu hanya dapat dilakukan dengan menguji hipotesis dengan data di
langangan.
Dalam merancang dan
membangun hipotesis, peneliti membutuhakn suber sumber inspirasi yang dapat
membantu dan meberi warna hiptesis yang dibangunya. Untukk diperolehnya suber
hpotesis, peneliti dapat saja mengacu pada teori yang telah mapan, yang
diperoleh dari studi kepustakaan. Dari teori teori mapan ini muncul banyak
suber hipotess daat saja hipotesis nya, memang demikian akan tetapi teori bukan
satu satunya suber hiptesis dapat saja hipotesis dibangun berdasarkan
pengamatan pengamatan yang sistematis melalui penelitian eksploratif atau bahan
bahan eksploratif yang idbuat oleh orang lain.
K.
TUJUAN MODEL PENELITIAN SOSIAL
1. Untuk
menemukan hal baru dalam memecahkan masalah sosial (Ekploratif).
Definisi eksplorasi sendiri adalah
penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak,
terutama sumber-sumber alam yang ada di tempat itu. Proses eksplorasi ini
kemudian akan menghasilkan penemuan baru. Penemuan-penemuan baru dibedakan
dalam dua pengertian, yaitu: discovery dan invention.
Discovery yaitu penemuan kebudayaan
baik berupa alat ataupun gagasan yang diciptakan oleh seorang individu ataupun
serangkaian ciptaan beberapa individu. Selanjutnya invention yaitu discovery
yang sudah mendapatkan pengakuan oleh masyarakat dan dapat diterima serta
diterapkan dalam kehidupan. Berdasarkan uraian tersebut, maka tujuan penelitian
sosial dilihat dari temuan hasil eksplorasi dapat dibagi dua, yaitu: penelitian
sosial dengan tujuan discovery dan penelitian sosial dengan tujuan invention.
Jadi eksplorasi hanya sebatas jandela masuk dalam mewujudkan tujuan penelitian
sosial, eksplorasi bukanlah suatu tujuan, tetapi proses.
2. Untuk
verifikasi atau memeriksan tentang kebenaran suatu penyelesaian masalah sosial.
Definisi verifikasi adalah
pemeriksaan tentang kebenaran laporan. Verivikasi dalam penelitian sosial
adalah suatu tujuan penelitian sosial yang hendak dicapai untuk menguji
kebenaran atau menguji hasil penelitian yang pernah dilakukan karena adanya
data-data yang diragukan kebenarannya.
3. Untuk
mengembangkan ilmu sosial dalam fungsinya sebagai alat untuk menyelesaikan
masalah-masalah sosial (devolepment).
Tujuan penelitian sosial untuk
devolepment adalah penelitian sosial tersebut dilakukan untuk mengembangkan,
memperluas, dan menggali lebih dalam suatu ilmu sosial atau masalah sosial guna
dipecahkan agar tercipta ilmu sosial dan masyarakat yang diinginkan.
Siklus Penelitian Sosial
Untuk memulai suatu penelitian, permasalahan yang akan
dipecahkan perlu ditemukan lebih dahulu. Beberapa hal yang membantu penemuan
tersebut adalah membaca artikel jurnal-jurnal ilmiah pada bidang yang
diminati. Dengan membaca beberapa artikel jurnal yang memuat permasalahan dan
pemecahannya diharapkan ada stimulasi dari pembacaan tersebut untuk menimbulkan
ide-ide lain yang layak untuk diteliti.
L. MOTODE PENELITIAN SOSIAL YANG BAIK
Dalam melakukan penelitian sosial
pastinya ingin melakukan penelitian yang baik, maka metodenya sebagai berikut:
1.
Masalah dan tujuan penelitian harus dirumuskan dngan
baik. Rumusan masalah dan tujuan yang tidak tepat, akan mengacaukan penelitian
yang akan dilakukan. disampimg akan mempersulit aktifitas penelitian tersebut.
2.
Prosedur penelitian di jabarkan dengan rinci. Ini
untuk mempermudah aktivitas peneliti serta untuk menghindari hal – hal yang
tidak diperlukan dalam proses penelitian.
3.
Analisis data harus tepat. Pekerjaan analisa data
yaitu mengatur, mengurutkan, mengelompokan, memberi kode, dan
mengkatagorisasikannya.
4.
Kesimpulan didukung oleh data. Yaitu kesimpulan tidak
boleh berdasarkan dugaan asumsi dan kira – kira.
5.
Hasil penelitian harus dapat dipercaya. Keterpercayaan
dapat dilihat dari analisa data serta kerelevanan kesimpulan terdapat data.
6.
Penelitian harus membuat laporan lengkap. Tanpa
membuat laporan, kegiatan penelitian tidak dapat memberikan sumbangsih terhadap
keilmuan dan manusia. Dari laporan itulah orang lain dapat mengambil manfaat
dan menerapkan dalam kehidupan.
7.
Dampak intruksional dan pengiring
Jadi, dari
penjelasan diatas dapat diambil contoh dalam penelitian kita harus mencakupi,
diantaranya
a. Observasi,
b. Pengumpulan data awal melalui wawancara informal
c. Pengumpulan informasi melalui survei literatur
d. Identifikasi masalah
e. Rerangka teori
f. Hipotesis
g. Pengumpulan Data
h. Analisa Data
i.
Deduksi
Jadi semuanya dapat disimpilkan
bahwa metode adalah suatu cara atau jalan, metode dapat di artikan sebagai cara
untuk mendekati, mengamati dan menjelaskan suatu gejala dengan menggunakan
suatu atau sebuah landasan teori. Metode penelitian menunjuk pada cara dalam
hal apa studi penelitian dirancang dan prosedur – prosedur melalui apa data
dianalisis.
Pengertian luas menurut saya
mengenai penelitian sosial merupakan
cara dan prosedur yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki
suatu masalah dengan mendapatkan informasi untuk digunakan sebagai solusi atas masalah
tersebut.
Mengapa
disini kita harus melakukan penelitian, karena dengan melakukan penelitian kita
bisa untuk
memecahkan permasalahan. Permasalahan saat ini dalam lingkungan kerja disebut
dengan riset terapan. Perusahaan
yang melakukan riset terapan biasanya akan membayar peneliti atau konsultan
guna meneliti permasalahan yang mereka hadapi untuk memecahkan masalah.
Hasil-hasil riset terapan akan digunakan untuk:
-
Penelitian Evaluasi adalah penelitian yang digunakan
sebagai dasar pemilihan dari berbagai alternatif tindakan
untukpengambilan keputusan bisnis
-
Penelitian dan Pengembangan adalah penelitian yang
digunakan untuk pengembangan produk baru atau pengembangan proses untuk
menghasilkan produk yang lebih berkualitas
-
Penelitian aksi atau tindakan: bertujuan untuk
mengembangkan ketrampilan atau pendekatan baru dan memecahkan masalah tertentu
Kemudian juga untuk memberikan
kontribusi terhadap ilmu pengetahuan dalam bidang-bidang tertentu sesuai dengan
fokus yang diminati oleh peneliti disebut dengan riset dasar. Riset ini ditujukan untuk memahami lebih jauh
fenomena-fenomena yang terjadi dan bagaimana permasalahan dalam
perusahaan-perusahaan dan industri tersebut dapat dipecahkan. Riset tipe
ini juga ditujukan untuk membangun teori.
Dengan begitu apabila kita melakukan
prosedur – prosedur yang telah dibuat diatas maka setidaknya kita akan sangat
mudah untuk melakukan penelitian atau bahkan
mengetahui menganai bagaimana melakukan penelitian atau fase – fase untuk melakukan penelitian,
dan sehingga nantinya mendapatkan hasil atau tujuan yang telah direncanakan
sebelumnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka
dapat dinyatakan bahwa perkembangan ilmu sosial selalu
dilandasi oleh kebenaran yang relatif, keteraturan yang selalu berubah-ubah
dari waktu ke waktu, ketidakpuasan terhadap keadaan yang ada, keingintahuan
terus-menerus, yang ditelaah bukan kuantitas, melainkan kualitas dari gejala sosial yang ada terjadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar